Perintah Hijrah dikumandangkan Rasulullah SAW. Bergeraklah ummat Islam
menuju kota yang diisyaratkan Rasulullah, yaitu Yatsrib (Madinah). Ummu
Salamah beserta suaminya tidak ketinggalan, menunaikan seruan suci
Rasulullah SAW.. Sambil mengais anaknya, Ummu Salamah dan suaminya
bergerak menuju Yatsrib.
Rupanya perjalanan jauh ke tanah Yatsrib bukanlah tanpa resiko. Di
tengah jalan, sekelompok Bani Makhzum mencegat mereka. Dengan penuh
kebencian Gerombolan Bani Makhzum itu merebut dan memisahkan Ummu
Salamah dan anaknya dari suaminya. Ummu Salamah dan anaknya menjadi
tawanan Bani Makhzum dan ditahan di Makkah, sementara suaminya (dengan
penuh kesedihan), meneruskan perjalanan menuju Madinah.
Di Makkah, anaknya Ummu Salamah ditawan dan dipisahkan dari Ummu
Salamah. Tinggalah Ummu Salamah seorang diri dengan penuh keperihan
karena dipisahkan dengan paksa dari suami dan buah hatinya. Hari demi
hari betul betul menusuk hati Ummu Salamah di bawah penjagaan ketat Bani
Makhzum terhadapnya. Tiada kabar sedikitpun tentang keberadaan suami
dan anaknya.
Ummu Salamah melalui hari hari dengan penuh kesabaran tanpa penyesalan
dan umpatan sedikitpun, ia sadar ini adalah cobaan dari Sang Pencipta
karena keteguhannya dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Gelora cinta kepada suami dan anaknya membara lebih panas daripada api
yang menghanguskan hutan rimba. Tetapi sikap mental prima penuh
kesabaran menempanya untuk tetap teguh. Do’a dan harapan menjadi hiasan
setiap waktunya; “CINTA BERBALUT KESABARAN” subhanallah.
Do’a dan harapan Ummu Salamah naik meniti tangga amal shalehnya hingga arasy Allah.
rasa iba dari Bani Makhzum, setelah lama menawan Ummu Salamah dengan
penderitaannya. Hingga suatu hari mereka mengijinkan Ummu Salamah untuk
pergi dan melepas penahanannya. Bahkan anaknyapun dipertemukan dengan
Ummu Salamah. Pergilah Ummu Salamah menyusul suaminya yang telah pergi
ke Yatsrib.
Di Yatsrib air mata Ummu Salamah menetes penuh haru tatkala bertemu
dengan suaminya. Haru dan rasa senang tiada tara tertumpah ruah.
Hangatnya cinta Ummu Salamah terhadap keluarganya menampilkan drama
indah penuh keharuan dalam salah satu episode hidupnya.
Abu Salamah (suami Ummu salamah), tentu lebih berbahagia lagi. Dia
mendapat istri yang mendampinginya dengan penuh cinta dan kesabaran.
Tetapi Cinta Abu Salamah terhadap istrinya tidak melebihi cintanya
kepada Allah dan Rasul-Nya. Hingga ketika terompet perang Uhud di tiup,
Abu Salamah tanpa ragu keluar rumah dan meninggalkan istrinya maju ke
medan tempur.
_____
Abu Salamah pulang Dari medan tempur Uhud dengan luka luka parah, hingga
membengkak. Disaat Ummu Salamah dengan telaten mengobati luka parahnya,
Abu Salamah berkata: “Wahai Ummu Salamah! Aku mendengar Rasulullah
bersabda: “Apabila seseorang terkena musibah, hendaklah ia mengucapkan
innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.” Kemudian, Abu Salamah menambahkan:
“Ya Allah, kukembalikan kepadamu seluruh musibah yang mengenaiku. Ya
Allah, berikanlah kepada istriku yang lebih baik dari diriku.”
Angin dingin berhembus pelan mengiringi kematian suami tercinta. Tetapi
Ummu Salamah berkata: “Tidak ada lelaki yang terebaik selain Abu
Salamah, sehingga tidak aka yang sanggup menggantikan Abu Salamah yang
telah tiada”.
Ummu Salamah juga mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : "Seseorang yang tertimpa musibah
lalu ia berkata : inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan berdoa :
Allahuma jurnii fi musibatii wakhluf liya khairan minhaa (Ya Allah
berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang
lebih baik daripadanya) . Niscaya Allah akan memberinya pahala karena
musibah itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik." (HR.
Muslim 3/37-38). Tatkala Abu Salamah (suaminya) meninggal, dia
mengucapkan apa yang dikatakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam.
Setelah masa berkabung karena ditinggal suaminya, Ummu Salaamah
didatangi Abu Bakar untuk dilamarnya, Ummu Salamah menolaknya. Begitupun
ketika Umar Bin Khathab datang dengan maksud yang sama, sikap Ummu
Salamah adalah sama yaitu menolak lamaran Umar.
Kemudian, giliran Rasulullah datang melamar Ummu Salamah dan ia pun
menjawab: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai tiga sifat
kekurangan. Pertama: aku seorang wanita pencemburu, oleh karena itulah
aku takut engkau melihat kekurangan itu dariku sehingga membuatmu marah
dan Allah akan mengazabku. Kedua: aku seorang wanita lanjut usia . Dan,
ketiga: aku seorang janda yang sudah mempunyai anak.”
Mendengar alasan tersebut, Rasulullah bersabda: “Adapun yang engkau
uraikan tentang kecemburuanmu, maka sesungguhnya aku berdoa kepada Allah
agar dihilangkan- Nya sifat cemburumu itu. Adapun alasan karena engkau
sudah lanjut usia, maka sesungguhnya aku sama sepertimu. Dan, adapun
karena engkau seorang janda yang sudah mempunyai anak, maka sesungguhnya
anakmu adalah anakku juga.”
Rasulullah pun menikah dengan Ummu Salamah. Dan, Allah telah mengabulkan
doa Ummu Salamah serta mengganti untuknya dengan yang lebih baik, yaitu
Rasulullah suri teladan umat manusia. “CINTA YANG BERBALUT KESABARAN”
subhanallah. Allah ganti Abu salamah yang syahid dengan Muhammad SAW
yang penghulu syuhada. Inilah buah dari kesabaran. Dengan sabar maka
derita akan diganti dengan yang lebih baik.
Cinta Ummu salamah pun tertumpah ruah kepada suaminya yang baru yaitu
kepada Muhammad SAW, dan ia tetap sabar membela dan mencintai suaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar